ACTIVITY BASED COSTING

A. Penerapan Metode ABC dlm Menentukan HPP

a. Akuntansi Biaya

Memasuki dunia bisnis, data biaya akan digunakan untuk membantu perusahaan menanggapi dengan cepat perubahan kondisi pasar dengan menyesuaikan produk terhadap perbedaan selera dan permintaan pelanggan. Penyesuaian sistem akuntansi biaya untuk kebutuhan manajemen secara lebih baik merupakan hal penting bagi kelangsungan hidup orang ketika bersaing di global market.

Manajemen tanpa informasi biaya tidak memiliki ukuran apakah nilai input lebih tinggi atau lebih mudah dari keluaran (output), sehingga perusahaan tidak memiliki informasi apakah kegiatan usaha menghasilkan laba atau tidak. Pihak manajemen pun tidak mempunyai dasar untuk mengalokasikan berbagai sumber ekonomi yang dikeluarkan dalam menghasilkan sumber ekonomi lainnya. Akuntansi biaya menyediakan informasi biaya agar manajemen dapat melakukan alokasi berbagai sumber ekonomi untuk menjamin dihasilkannya output yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai inputnya. Akuntansi biaya juga mengukur kualitas produk dan produktifitas.

Menurut Mulyadi, “Akuntansi Biaya yaitu proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Akuntansi biaya menghasilkan informasi biaya untuk memenuhi berbagai macam tujuan.”

(Mulyadi, 1999 :24)

Menurut Usry dan Hammer, “Akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan perangkat akuntansi untuk kegiatan perencanaan dan pengendalian, perbaikan mutu dan efesiensi, serta membuat baik keputusan rutin maupun keputusan strategi.”

(Usry & Hammer, 1995 : 2)

b. Sistem Informasi Akuntansi Biaya

Untuk mengelola perusahaan, diperlukan informasi biaya yang sistematis dan komparatif serta data analisis biaya dan laba. Informasi ini membantu manajemen untuk menetapkan sasaran laba perusahaan, menetapkan target departemen yang menjadi pedoman manajemen menengah dan operasi menuju pencapaian sasaran akhir, mengevaluasi keefektifan rencana, mengungkapkan keberhasilan atau kegagalan dalam bentuk tanggung jawab yang spesifik, dan menganalisis serta memutuskan pengadaan penyesuaian dan perbaikan, agar seluruh organisasi tetap bergerak maju secara seimbang menuju tujuan yang telah ditetapkan. Sistem informasi yang terpadu dan terkoordinasi hanya akan menyediakan informasi yang benar-benar diperlukan oleh setiap manajer yang bertanggung jawab. Guna mencapai tujuan ini, sistem tersebut harus dirancang untuk memberikan informasi yang tepat waktu. Selanjutnya, informasi ini harus dikomunikasikan secara efektif. Kebutuhan akan pengendalian biaya dan peluang untuk memperoleh laba dapat tertunda atau sirna akibat komunikasi yang buruk.

Sistem informasi akuntansi biaya harus terkait erat dengan pembagian wewenang, sehingga setiap manajer dapat dianggap bertanggung jawab atas biaya yang terjadi di departemennya. Sistem tersebut harus dirancang untuk mengembangkan konsep manajemen berdasarkan penyimpangan (management by exception); yaitu yang dapat memberikan informasi bagi manajemen untuk segera mengambil tindakan perbaikan.

Sistem informasi tersebut harus mengarahkan perhatian manajemen. Mungkin aspek-aspek prestasi yang cukup berpengaruh sulit diukur, sementara di pihak lain faktor-faktor yang lebih mudah diukur tetapi tidak begitu penting bisa mengakibatkan perusahaan terlalu mengutamakan kegiatan yang sesungguhnya tidak cukup bermanfaat dalam jangka panjang. Informasi yang disajikan kepada manajer haruslah bersifat tepat guna, dan keterbatasannya harus diungkapkan. Serentak dengan itu, kegunaan sistem informasi harus dikembangkan apabila memungkinkan.

c. Konsep Biaya

1. Definisi Biaya

Pengertian Biaya menurut pendapat beberapa ahli adalah sebagai berikut :

a. Usry dan Hammer mendefinisikan biaya sebagai suatu niali tukar prasyarat, pengorbanan yang dilakukan guna memperoleh manfaat. Dalam akuntansi keuangan, prasyarat atau pengorbanan tersebut pada tanggal perolehan dinyatakan dengan pengurangan kas/aktiva lainnya pada saat ini atau di masa mendatang.

(Milton F. Usry dan Lawrence H. Hammer, 1995 : 25)

b. R.A. Supriyono mendefinisikan biaya yaitu :

“Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan (revenue) dan akan dipakai sebagai pengurang penghasilan. Biaya digolongkan ke dalam harga pokok penjualan, biaya penjualan, biaya administrasi dan umum, biaya bungan dan biaya pajak perseroan.”

(R.A. Supriyono, 1997 :16)

Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya merupakan suatu nilai tukar prasyarat, pengorbanan harga perolehan dalam rangka memperoleh penghasilan (revenue) dan digunakan sebagai pengurang penghasilan.

2. Klasifikasi Biaya

Klasifikasi ini didasarkan pada hubungan antara biaya dengan :

1. Produk (partai tunggal, tumpukan, atau unit barang dan jasa)

Dalam perusahaan pabrikasi, total biaya operasi terdiri dari :

a. Biaya Pabrikasi, sering disebut juga biaya produksi atau biaya pabrik (factory cost) adalah jumlah dari tiga unsur biaya yaitu bahan langsung, pekerja langsung, dan overhead pabrik.

b. Beban Komersial, dibagi ke dalam dua kelompok besar yaitu beban pemasaran (distribusi dan penjualan), dan beban administrasi (umum dan administrasi).

2. Volume produksi

Beberapa jenis biaya bervariasi langsung dengan perubahan volume produksi atau keluaran, sedang biaya lainnya tidak berubah (fixed).

a. Biaya variabel

b. Biaya tetap

c. Biaya semivariabel

3. Departemen pabrikasi, proses, pusat biaya, atau subdivisi lainnya.

a. Departemen produksi dan Jasa

b. Beban Langsung dan tidak langsung departemen

c. Biaya bersama dan biaya gabungan

4. Periode akuntansi

Biaya dapat dikelompokkan sebagai belanja barang modal (capital expenditure) atau sebagai pengeluaran pendapatan (revenue expenditure). Belanja barang modal yang dapat disebut sebagai pengeluaran modal dimaksudkan untuk menghasilkan manfaat dalam periode-periode mendatang dan dicatat sebagai aktiva. Pengeluaran pendapatan memberi manfaat dalam periode berjalan dan dicatat sebagai beban.

5. Biaya dalam hubungannya dengan Keputusan yang diusulkan, pelaksanaan, atau evaluasi

Biaya diferensial adalah salah satu nama dari biaya yang relevan dengan pilihan di antara berbagai alternatif. Biaya diferensial kadang-kadang disebut juga sebagai biaya marjinal (marginal cost) atau biaya inkremental (incremental cost). Jika sejumlah biaya diferensial dikeluarkan hanya jika satu alternatif tertentu dipilih disebut dengan biaya kesempatan (opportunity cost) dari alternatif tersebut. Biaya yang telah dikeluarkan, dan kemudian ternyata tidak relevan dengan keputusan itu disebut dengan biaya tertanam (sunk cost). Dalam keputusan untuk tidak melanjutkan suatu produk atau divisi, beberapa biaya produk atau divisi mungkin tidak dipengaruhi oleh keputusan itu; biaya itu disebut sebagai biaya yang tidak dapat dihindari (unavoidable cost). Sebaliknya, biaya-biaya yang dapat dihindari (avoidable cost) adalah relevan dengan keputusan.

(Usry, Milton F. & Lawrence H. Hammer, 1995 : 30-44)

3. Biaya Produksi

Salah satu tujuan akuntansi biaya adalah untuk menentukan harga pokok produk. Untuk penentuan harga pokok produksi dengan teliti, perlu dipahami proses pembuatan produk. Dalam pembuatan produk terdapat dua kelompok biaya yaitu biaya produksi dan biaya non produksi. Biaya produksi merupakan biaya – biaya yang dikeluarkan dalam pengolahan bahan baku menjadi produk, sedangkan biaya non produksi merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan non produksi seperti kegiatan pemasaran dan kegiatan administrasi umum. Biaya produksi membentuk harga pokok produksi, yang digunakan untuk menghitung harga pokok produk jadi dan harga pokok produk yang pada akhir periode akuntansi masih dalam proses. Biaya non produksi ditambahkan pada harga pokok produksi untuk menghitung total harga pokok produksi.

d. Sistem Akuntansi Biaya Dalam Menentukan Harga Pokok Produk

1. Sistem Akuntansi Biaya Konvensional

Sistem akuntansi biaya konvensional menggunakan unit / kuantitas produk yang dihasilkan sebagai dasar pembebanan. Metode pembebanan semacam ini sering disebut juga Unit Based System.

Pada sistem ini biaya-biaya yang timbul dicatat, dikumpulkan, dan dikendalikan berdasar atas elemen-elemennya ke dalam pusat-pusat pertanggungjawaban. Dengan cara semacam ini maka biaya-biaya produksi juga ditentukan menurut banyaknya sumber daya yang diserap oleh masing-masing pusat biaya.

Ada dua metode yang digunakan untuk menghitung harga pokok produk yaitu sebagai berikut :

1. Metode Harga Pokok Penuh (Full Costing)

Metode harga pokok penuh merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungka semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produk yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang bersifat tetap maupun variabel. Metode harga pokok penuh ditujukan untuk memenuhi kepentingan pihak eksternal perusahaan.

2. Metode Harga Pokok Variabel (Variable Costing)

Metode harga pokok variabel merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya mempehitungkan biaya produksi yang bersifat variabel ke dalam harga pokok produksi. Biaya tersebut meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Metode harga pokok variabel ini lebih ditujukan untuk memenuhi kepentingan pihak internal.

(Mulyadi, 1992 : 18-21)

Untuk mempermudah penentuan harga pokok diasumsikan bahwa volume atau unit produk adalah satu-satunya cost driver sehingga dapat dikatakan bahwa peningkatan jumlah biaya tergantung dari variabel output. Implikasi dari asumsi tersebut adalah:

1. Dalam penentuan harga pokok produk, biaya tenaga kerja langsung dan biaya bahan baku langsung dapat diklasifikasikan secara langsung ke produk. Alasannya karena perubahan biaya-biaya ini sebanding dengan volume keluaran atau unit yang diproduksi.

2. Dalam mengidentifikasikan biaya-biaya overhead ke produk ditempuh cara-cara untuk memisahkan ke biaya overhead tetap dan variabel. Biaya overhead variabel dapat langsung diidentifikasikan dan dibebankan ke produk, sedangkan biaya overhead tetap dialokasikan ke produk menggunakan basis-basis alokasi yang sifatnya arbriter. Alokasi overhead pabrik ke produk ditempuh dengan metode alokasi dua tahap sebagai berikut :

a. Tahap Pertama, biaya-biaya overhead dibebankan ke pusat-pusat biaya.

b. Tahap Kedua, biaya-biaya overhead yang telah dikumpulkan dalam pusat-pusat biaya dialokasikan ke produk menggunakan cost drivers yang berbasis unit yang diproduksi, misalnya jam tenaga kerja langsung, biaya tenaga kerja langsung, jam mesin, biaya bahan baku atau berat bahan baku.

(Supriyono, 1994 :662)

Berdasarkan atas perbedaan karakteristik di antara proses-proses produksi, cara pencatatan biaya berdasarkan unit organisasi produksi dikembangkan lebih lanjut. Cara pencatatan berdasarkan proses-proses produksi disebut Procces Costing, sedangkan cara pencatatan biaya berdasarkan pesanan disebut Job Order Costing.

Metode pengumpulan biaya produksi ditentukan oleh karakteristik proses produksi perusahaan. Dalam perusahaan yang menggunakan process costing, karakteristik produksinya adalah sebagai berikut :

1. Produk yang dihasilkan merupakan produk standar.

2. Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama.

3. Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi rencana produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu.

(Mulyadi, 1992 : 69-70)

Dalam perusahaan yang menggunakan process costing, informasi harga pokok produksi yang dihitung untuk jangka waktu tertentu bermanfaat bagi manajemen untuk :

1. Menentukan harga jual produk.

2. Memantau realisasi biaya produksi.

3. Menghitung laba atau rugi periodik.

4. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca.

(Mulyadi , 1992 :71)

a) Distorsi Sistem Biaya Konvensional

Terdapat lima faktor sumber distorsi sistem biaya konvensional yaitu:

1. Beberapa biaya dialokasikan ke produk padahal sebenarnya tidak mempunyai hubungan kausal dengan produk yang dihasilkan.

2. Biaya yang sebenarnya mempunyai hubungan dengan produk yang dihasilkan atau dengan pelayanan pada pelanggan diabaikan.

3. Penetapan biaya produk terbatas pada suatu sub himpunan output perusahaan, sementara itu perusahaan menghasilkan multiproduk.

4. Pembebanan biaya secara tidak cermat ke produk dapat menimbulkan dua bentuk distorsi yaitu:

a. Distorsi harga terjadi apabila sistem biaya terlalu agregatif dengan menggunakan tarif rata-rata, bukan tarif spesifik.

b. Distorsi kuantitas terjadi apabila biaya dibebankan secara tidak langsung dengan menggunakan basis alokasi pengganti yang tidak sepenuhnya proposional dengan kuantitas sumber daya aktual yang terserat dalam berbagai jenis produk yang dihasilkan.

5. Usaha mengalokasikan biaya bersama (common cost) dan biaya bergabung (joint cost) ke produk yang dihasilkan.

b) Kelemahan Sistem Akuntansi Biaya Konvensional

Informasi yang diperlukan oleh manajemen dalam era persaingan global sangatlah kompleks apabila didukung dengan digunakannya teknologi manufaktur maju dalam proses produksi. Penggunaan sistem akuntansi konvensional tidak dapat lagi memberikan informasi yang benar-benar dapat dipercaya dalam hal penerapannya. Sistem akuntansi biaya konvensional semakin sulit untuk dapat diterima sebagai penyaji informasi yang benar. Jika sistem akuntansi biaya konvensional tidak diubah maka akan terjadi kesenjangan antara informasi yang disediakan oleh sistem akuntansi biaya konvensional dengan informasi yang diperlukan manajemen untuk menghadapi persaingan global dan perubahan lingkungan. Hal ini disebabkan karena sistem akuntansi biaya konvensional memiliki kelemahan-kelemahan yang tidak dapat menunjang penggunaan teknologi pemanufakturan maju.

Kelemahan-kelemahan sistem akuntansi biaya konvensional yaitu:

a. Hanya jam atau biaya tenaga kerja langsung yang digunakan untuk mengalokasikan overhead dari pusat biaya ke produk.

b. Hanya basis alokasi yang berkaitan dengan volume : jam kerja, jam mesin, dan rupiah bahan yang digunakan untuk mengalokasikan overhead dari pusat biaya ke produk. Distorsi terutama timbul, apabila jumlah biaya yang tidak berkaitan dengan volume (set-up, inspection, scheduling) relatif besar.

c. Pusat biaya terlalu besar dan terdiri dari mesin-mesin dengan struktur biaya overhead yang sangat berbeda satu sama lain, mesin yang otomatik mungkin memikul biaya overhead yang terlalu kecil dibanding mesin manual.

d. Biaya pemasaran dan penyerahan produk sangat bervariasi untuk masing-masing saluran distribusi, sedangkan sistem biaya konvensional mengabaikan biaya pemasaran

Ada dua faktor utama yang menyebabkan ketidakmampuan tarif pabrik menyeluruh dan departemental berdasarkan unit untuk membebankan biaya overhead secara tepat:

a. Proporsi biaya overhead yang tidak berkaitan dengan unit terhadap total biaya overhead adalah besar.

b. Tingkat keragaman produk besar

Kelemahan-kelemahan sistem akuntansi biaya konvensional membuat informasi yang disajikan tidak dapat digunakan untuk pengambilan keputusan di era persaingan global. Pembebanan biaya overhead pabrik yang tepat dan benar sangat menentukan kualitas keputusan yang dibuat manajemen yang pada akhirnya akan mendukung posisi perusahaan dalam persaingan yang semakin ketat.

c) Dampak Sistem Biaya Konvensional Yang Terdistorsi Terhadap Perilaku Organisasi

Informasi biaya yang terdistorsi, akan berdampak terhadap perilaku anggota organisasi, dampak tersebut antara lain:

1) Para manajer pusat biaya cenderung untuk membeli dari luar daripada memproduksi sendiri. Hal ini dimaksudkan agar alokasi overhead atas dasar jam atau upah langsung tidak terlalu besar.

2) Tidak terlalu banyak waktu yang dikorbankan untuk mengukur jam kerja langsung.

3) Pengolahan data pada pusat biaya yang padat karya tampak lebih mahal daripada pusat biaya yang padat modal.

4) Tidak ada insentif bagi para manajer produk untuk mempengaruhi atau mengendalikan pertumbuhan yang cepat dari tenaga personalia penunjang.

5) Jam kerja karyawan diukur dengan sangat detail karena alokasi tarif upah hanya dibebankan menurut jam kerja aktual sedang jam pada waktu tidak bekerja, pergantian pekerjaan dan kerusakan serta reparasi mesin dibebankan kepada berbagai kategori overhead.

2. Activity Based Costing System (ABC Systerm)

Lingkungan teknologi manufaktur maju memerlukan sistem informasi akuntansi yang dirancang untuk mengelola aktivitas dan mempertahankan keunggulan bersaing. Sistem tersebut dinamakan akuntansi aktivitas (Activity Accounting) atau disebut pula Activity Based Costing System (ABC System). Sistem ini juga dapat digunakan untuk menilai kinerja dengan cara-cara yang baru.

Dalam ABC system, aktivitas dianggap sebagai penyebab timbulnya biaya produksi. Namun lebih dari itu, ABC System juga menekankan pada aspek perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan oleh manajer.

a. Pengertian Activity Based Costing System

Hongren mendefinisikan ABC Sistem sebagai :”… is a system that first accumulates the costs of each activity of an organization and then applies the costs of activities to the products, services, or other cost objects using appropriate cost drivers”.

(Charles T. Hongren, Sundem, & Stratton, 1996 : 502)

Secara umum pengertian Activity Based Costing System (ABC System) adalah suatu sistem biaya yang mengumpulkan biaya-biaya ke dalam aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam perusahaan lalu membebankan biaya atau aktivitas tersebut kepada produk atau jasa, dan melaporkan biaya aktivitas dan produk atau jasa tersebut pada manajemen agar selanjutnya dapat digunakan untuk perencanaan, pengendalian biaya, dan pengambilan keputusan.

b. Asumsi Dasar Pada ABC System

Activity Based Costing System timbul sebagai akibat dari kebutuhan manajemen akan informasi akuntansi yang mampu mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas untuk menghasilkan produk. Kebutuhan akan informasi biaya yang akurat tersebut disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Persaingan global (Global Competition) yang dihadapi perusahaan manufaktur memaksa manajemen untuk mencari berbagai alternatif pembuatan produk yang cost effective.

2. Penggunaan teknologi maju dalam pembuatan produk menyebabkan proporsi biaya overhead pabrik dalam product cost menjadi dominan.

3. Untuk dapat memenangkan persaingan dalam kompetisi global, perusahaan manufaktur harus menerapkan market–driven strategy.

4. Market–driven strategy menuntut manajemen untuk inovatif.

5. Pemanfaatan teknologi komputer dalam pengolahan data akuntansi memungkinkan dilakukannya pengolahan berbagai informasi biaya yang sangat bermanfaat dengan cukup akurat.

c. Manfaat Activity Based Costing System

1. Memperbaiki kualitas pembuatan keputusan.

2. Menyediakan informasi biaya berdasarkan aktifitas, sehingga memungkinkan manajemen melakukan manajemen berbasis aktivitas (activity based management).

3. Perbaikan berkesinambungan terhadap aktivitas untuk mengurangi biaya overhead pabrik.

4. Memberikan kemudahan dalam estimasi biaya relevan.

Klaim Utama yang dilakukan oleh T. Lucy sehubungan dengan ABC yaitu :

a. Biaya produk yang lebih realistik khususnya tersedia dalam pabrik berteknologi manufakturing yang maju (AMT / Advanced Manufacturing Technology) dimana overhead pendukung merupakan suatu proporsi yang signifikan dari biaya total.

b. Semakin banyak overhead dapat ditelusuri ke produk. Dalam pabrik modern, terdapat sejumlah aktivitas non unit yang berkembang. ABC memberi perhatian pada semua aktivitas.

c. ABC mengakui bahwa aktivitaslah yang menyebabkan biaya (activities cause cost), bukan produk dan produklah yang mengkonsumsi aktivitas.

d. ABC memfokus perhatian pada sifat riil dari perilaku biaya dan membantu dalam mengurangi biaya dan mengidentifikasi aktivitas yang tidak menambah nilai terhadap produk.

e. ABC mengakui kompleksitas dari diversitas dari produksi yang modern dengan menggunakan banyak pemacu biaya (multiple cost drivers), banyak dari pemacu biaya tersebut adalah berbasis transaksi (transaction-based) daripada berbasis volume produk.

f. ABC memberikan suatu indikasi yang dapat diandalkan dari biaya produk variabel jangka panjang (long run variable product cost) yang relevan terhadap pengambilan keputusan strategik.

g. ABC cukup fleksibel untuk menelusuri biaya ke proses, pelanggan, area tanggung jawab manajerial, dan juga biaya produk.

h. ABC memberikan tolok ukur keuangan yang berguna (misalnya tarif pemacu biaya / cost driver rates) dan tolok ukur non keuangan (misalnya volume transaksi)

(T. Lucy, (1992 :33) dalam Amin Widjaja Tunggal (2000 : 24) sependapat)

d. Keterbatasan Activity Based Costing System

Secara teori ABC system dianggap dapat memberikan informasi dan kinerja yang lebih unggul dibandingkan sistem akuntansi biaya tradisional. Akan tetapi, bukti bahwa ABC System dapat menghasilkan informasi biaya yang akurat tidak menjamin bahwa sistem ini merupakan sistem yang sempurna karena ternyata sistem ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan-keterbatasan ABC System ini diantaranya adalah:

(1) Sistem penentuan harga pokok berbasis aktivitas mensyaratkan bahwa perusahaan memproduksi berbagai macam produk dan berada di dalam lingkungan persaingan tertentu.

(2) Sistem penentuan harga pokok berbasis aktivitas yang lebih menekankan pada permasalahan alokasi atau pembebanan biaya-biaya manufaktur, pemasaran, penelitian dan pengembangan dan lain-lainnya tidak menjelaskan bagaimana portfolio atau komposisi produk yang paling optimal.

(3) Secara konseptual penentuan harga pokok berbasis aktivitas mempunyai kelemahan sebagai berikut :

a. Beberapa biaya masih dialokasikan secara arbitrer.

b. Dalam penentuan harga pokok produk masih terdapat penggunaan periode-periode waktu secara arbitrer.

c. Penentuan harga pokok berbasis aktivitas untuk biaya-biaya pemanufakturan mengabaikan beberapa biaya yang dapat diidentifikasikan terhadap produk tertentu dari analisa harga pokok produk.

(4) Sistem penentuan harga pokok berbasis aktivitas tidak dapat menunjukkan biaya-biaya yang dapat dihindarkan jika suatu produk jasa atau segmen organisasi tertentu dieliminasi.

Keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki ABC System masih perlu dipikirkan pemecahannya sehingga ABC System benar-benar dapat menjadi sistem yang menyajikan informasi biaya yang akurat dan relevan serta dapat mendukung pengambilan keputusan yang dilakukan manajemen.

e. Kondisi Yang Diperlukan Dalam Penerapan ABC System

Meskipun secara teoritis dapat diketahui bahwa ABC system memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, namun tidak semua perusahaan dapat menerapkan sistem ini. Ada dua hal mendasar yang harus dipenuhi oleh perusahan yang akan menerapkan ABC System, yaitu :

1. Biaya-biaya berdasar non-unit harus merupakan persentase signifikan dari biaya overhead. Jika biaya-biaya ini jumlahnya kecil, maka sama sekali tidak ada masalah dalam pengalokasiannya pada tiap produk.

2. Rasio-rasio konsumsi antara aktivitas-aktivitas berdasar unit dan aktivitas-aktivitas berdasar unit dan aktivitas-aktivitas berdasar non-unit harus berbeda. Jika berbagai produk menggunakan semua aktivitas overhead dengan rasio kira-kira sama, maka tidak ada masalah jika cost driver berdasar unit digunakan untuk mengalokasikan semua biaya overhead pada setiap produk. Jika berbagai produk rasio konsumsinya sama, maka sistem konvensional atau ABC System membebankan overhead pabrik dalam jumlah yang sama. Jadi perusahaan yang produknya homogen (diversifikasi produknya rendah) dapat menggunakan sistem konvensional tanpa ada masalah.

f. Penentuan Harga Pokok Dengan Menggunakan ABC System

Sistem akuntansi biaya tradisional membebankan biaya overhead pabrik melalui dua tahap pembebanan yaitu pembebanan biaya overhead seperti sistem akuntansi biaya tradisional. Perbedaan antara kedua metode tersebut terletak pada dasar pembebanan (cost driver) yang digunakan. Sistem akuntansi biaya tradisional hanya menggunakan satu dasar pembebanan (cost driver) yaitu unit produksi, sedangkan ABC System menggunakan lebih dari satu cost driver sehingga informasi yang dihasilkan juga lebih akurat dan teliti.

Tahap-tahap pembebanan biaya overhead pabrik pada ABC System adalah :

1. Tahap I

a. Biaya overhead pabrik dibebankan pada aktivitas-aktivitas yang sesuai.

b. Biaya-biaya aktivitas tersebut dikelompokkan dalam beberapa cost pool yang homogen.

c. Menentukan tarif untuk masing-masing kelompok (cost pool). Tarif dihitung dengan cara membagi jumlah semua biaya didalam cost pool dengna suatu ukuran aktivitas yang dilakukan. Tarif pool ini juga berarti biaya per unit pemacu biaya (cost driver).

2. Tahap II

Biaya-biaya aktivitas dibebankan ke produk berdasarkan konsumsi atau permintaan aktivitas oleh masing-masing produk. Jadi pada tahap ini biaya-biaya tiap pool aktivitas ditelusur ke produk dengan menggunaan tarif pool dan ukuran besarnya sumber daya yang dikonsumsi oleh tiap produk. Ukuran besarnya sumber daya tersebut adalah penyederhanaan dari kuantitas pemacu biaya dikonsumsi oleh tiap produk.

g. Identifikasi dan Klasifikasi Aktivitas

Pada tahap pertama, aktivitas diidentifikasikan, biaya-biaya dibebankan kepada aktivitas, aktivitas yang berkaitan digabungkan menjadi satu kelompok, kelompok biaya sejenis dibentuk, dan tarif kelompok dihitung. Pada tahap kedua, setiap permintaan produk untuk sumber daya kelompok diukur dan biaya-biaya dibebankan kepada produk dengan menggunakan permintaan ini dan tarif kelompok yang mewakili. Namun, untuk menghindari kerancuan pada konsep dasar, kita menghindari setiap pembahasan detail dari beberapa langkah prosedur tahap pertama. Kita sekarang beralih ke penjelasan yang lebih rinci dari dua langkah pertama : (1) identifikasi aktivitas dan (2) klasifikasi aktivitas ke dalam kelompok sejenis. Bagaimana biaya-biaya dibebankan ke aktivitas dibahas dalam bagian yang berbeda.

Konsep ABC System, bahwa biaya produk ditimbulkan oleh aktivitas, baik aktivitas yang berkaitan dengan volume produk maupun aktivitas yang tidak berkaitan dengan volume produk. BOP merupakan biaya yang akan diatribusikan kepada produk berdasarkan pemicu biaya (cost drivers), bukan berdasarkan volume produk.

Aktivitas merupakan tindakan yang berulang-ulang untuk memenuhi fungsi bisnis. Setiap aktivitas dapat ditentukan sebagai value added atau non value added. Kaplan (1991), menyatakan bahwa, sistem manajemen biaya mempunyai dua sisi pengukuran kinerja, yaitu finansial dan non finansial. Pengukuran kinerja yang bersifat finansial digunakan untuk pengukuran kinerja periodik dan untuk penentuan biaya produk yang akurat. Sedangkan pengukuran kinerja non finansial dapat digunakan untuk mengembangkan dan memperbaiki secara terus menerus proses produksi dengan mengurangi non value added time. Continuous improvement ini mengacu pada falsafah pengolahan bernilai tambah (value added manufacturing), yang mengacu pada kegiatan manufaktur yang terbaik dan sederhana, sehingga sistem manufaktur menjadi lebih efisien.

Dalam value added manufaturing, pemborosan diartikan secara luas, yaitu setiap kegiatan dalam pengolahan yang tidak menghasilkan nilai tambah, seperti inspection time, waiting time dan moving time. Dengan demikian apabila tidak terdapat pemborosan maka nilai masing-masing inspection time, waiting time dan moving time sama dengan nol. Non value added dapat disebabkan oleh faktor yang bersifat sistemik, fisik dan manusiawi, misalnya mesin mempunyai sistem yang mengharuskan setiap proses produksi harus dalam batch yang besar, tenaga kerja yang kurang terampil mengakibatkan meningkatnya biaya tenaga kerja.

A. Aktivitas-aktivitas Berlevel Unit

Aktivitas berlevel unit (unit-level activities) adalah aktivitas yang dikerjakan setiap kali satu unit produk diproduksi, besar kecilnya aktivitas ini dipengaruhi oleh jumlah unit produk yang diproduksi. Sebagai contoh tenaga langsung, jam mesin, dan jam listrik (energi) digunakan setiap saat satu unit produk dihasilkan.

B. Aktivitas-aktivitas Berlevel Batch

Aktivitas-aktivitas berlevel batch adalah aktivitas yang dikerjakan setiap kali suatu batch produk diproduksi, besar kecilnya aktivitas ini dipengaruhi oleh jumlah batch produk yang diproduksi. Contoh aktivitas yang termasuk dalam kelompok ini adalah aktivitas setup, aktivitas penjadwalan produksi, aktivitas pengelolaan bahan (gerakan bahan dan order pembelian), aktivitas inspeksi.

C. Aktivitas-aktivitas Berlevel Produk

Aktivitas-aktivitas berlevel produk adalah aktivitas yang dikerjakan untuk mendukung berbagai produk yang diproduksi oleh perusahaan. Aktivitas ini mengkonsumsi masukan untuk mengembangkan produk atau memungkinkan produk diproduksi dan dijual. Contoh aktivitas yang termasuk dalam kelompok ini adalah aktivitas penelitian dan pengembangan produk, perekayasaan proses, spesifikasi produk, perubahan perekayasaan, dan peningkatan produk.

D. Aktivitas Berlevel Fasilitas

Aktivitas berlevel fasilitas adalah meliputi aktivitas untuk menopang proses pemanufakturan secara umum yang diperlukan untuk menyediakan fasilitas atau kapasitas pabrik untuk memproduksi produk namun banyak sedikitnya aktivitas ini tidak berhubungan dengan volume atau bauran produk yang diproduksi. Contoh aktivitas ini mencakup misalnya : manajemen pabrik, pemeliharaan bangunan, keamanan, pertamanan, penerangan pabrik, kebersihan, pajak bumi dan bangunan (PBB), serta depresiasi pabrik.

h. Cost Pool

Cost Pool adalah kelompok biaya yang disebabkan oleh aktivitas yang bersama dengan satu dasar pembebanan (cost driver). Cost pool digunakan untuk mempermudah manajemen dalam membebankan biaya-biaya yang timbul. Cost pool berisi aktivitas yang biayanya memiliki korelasi positif antara cost driver dengan biaya aktivitas. Tiap-tiap cost pool menampung biaya-biaya dari transaksi-transaksi yang homogen. Semakin tinggi tingkat kesamaan aktivitas yang dilaksanakan dalam perusahaan, semakin sedikit cost pool yang dibutuhkan untuk membebankan biaya-biaya tersebut. Sistem biaya yang menggunakan beberapa cost pool akan lebih menjelaskan hubungan sebab-akibat antara biaya yang timbul dengan produk yang dihasilkan.

Cost pool berguna untuk menentukan cost pool rate yang merupakan tarif biaya overhead pabrik per unit cost driver yang dihitung untuk setiap kelompok aktivitas. Tarif kelompok dihitung dengan rumus total biaya overhead untuk kelompok aktivitas tertentu dibagi dasar pengukuran aktivitas kelompok tersebut.

i. Cost Driver

Cost driver atau pemicu biaya digunakan untuk membebankan biaya aktivitas kepada output yang secara struktural berbeda dengan yang digunakan dalam sistem biaya konvensional. Atau faktor-faktor penyebab yang menjelaskan konsumsi overhead. Cost driver merupakan dasar yang digunakan untuk membebankan biaya yang terkumpul pada cost pool kepada produk.

Identifikasi cost driver adalah komponen yang penting dalam pengendalian biaya tak bernilai tambah. Jika kinerja individual dipengaruhi oleh kemampuannya untuk mengendalikan biaya tak bernilai tambah, maka pemilihan cost driver dan bagaimana cost driver tersebut digunakan dapat mempengaruhi perilaku para individu. Jika cost driver biaya untuk biaya setup yang dipilih adalah waktu setup, maka insentif harus diciptakan bagi pekerja agar mereka dapat mengurangi waktu setup.

About these ads

~ by zulfikarnashrullah on May 28, 2008.

2 Responses to “ACTIVITY BASED COSTING”

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  2. Konsep ini memang baik, cuma dalam prakteknya perlu kedisiplinan yang tinggi untuk merubah kebiasaan kebiasaan lama.
    Teori ini perlu didukung dengan sistem pelaporan yang baik (mudah mengatakan baik, tetapi harus dilengkapi dengan methode kerja, alur proses, alur dokumen dan jenis dokumen, dari lini bawah hingga top management), untuk perusahaan2 gaya lama perlu waktu yang cukup panjang. tergantung wawasan dan kompetensi mangement dan jajarannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: